Saat ini, kecanggihan berbagai alat maupun media merupakan suatu hal yang telah menjadi ciri di abad 20 ini. Teknologi Setiap negara di belahan dunia, tentunya akan saling bersaing dan berupaya untuk memajukan negaranya agar tidak menjadi negara yang tertinggal. Anak bangsa memiliki peran penting bagi suatu negara dalam hal memajukan negara, baik dalam hal memajukan peradaban maupun mengangkat martabat bangsa. Dalam hal ini, pemerintah di setiap negara pastinya memiliki tugas untuk mencerdaskan anak bangsa. Salah satu upaya pemerintah terkait hal tersebut adalah dengan menerapkan budaya literasi membaca bagi penerus bangsa. Budaya literasi ini tentunya menjadi suatu hal yang penting bagi sebuah negara. Bagaimana tidak, dengan menerapkan kebiasaan membaca menjadikan seseorang lebih berpikir kritis serta berpengetahuan yang luas. Seperti penduduk Finlandia yang dinobatkan sebagai penduduk dengan minat membaca tertinggi di dunia karena negara tersebut menyediakan semua fasilitas untuk membaca secara lengkap. Dilansir dari laman Ministry Of Eduction and Cultrul Finlandia, ada sekitar 738 bangunan perpustakaan dan 140 perpustakaan keliling di negara ini. Maka tak heran jika penduduk Finlandia ini gemar membaca. Kemudian Belanda berada di tingkat kedua, yang mana negara ini menerapkan literasi membaca dengan menumbuhkan budaya membaca mulai sejak dini. Bayi-bayi di Belanda saat berusia empat tahun, secara otomatis akan mendapatkan formulir keanggotaan dari sebuah perpustakaan umum. Formulir tersebut dikirimkan ke rumah masing-masing. Pemerintah Belanda pun melengkapi para bayi dengan seperangkat buku bacaan untuk bayi. Selanjutnya, Swedia yang mengirimkan paket berupa bingkisan seperangkat buku kepada keluarga yang baru memiliki bayi. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan budaya membaca sejak dini. Swedia pun merupakan negara yang berada di urutan ketiga minat baca tertinggi di dunia. Seperti halnya negara Swedia dan Belanda, Australia juga melakukan kegiatan memberi buku dalam paket bingkisan untuk keluarga yang memiliki bayi. Negara ini menempati urutan keempat dengan tingkat literasi tertinggi di dunia. Kemudian negara yang menempat urutan kelima tingkat literasi tertinggi adalah Jepang. Penduduk di negara Jepang ini memiliki kebiasaan membaca yang dilakukan ketika menunggu atau naik angkutan umum.
Negara- negara yang memiliki penduduk gemar membaca tersebut merupakan negara maju. Sudah dapat dipastikan bahwa menerapkan literasi membaca sejak dini sangat penting dalam upaya memajukan suatu bangsa. Menurut dr. Rizal Fadli, dengan membiasakan membaca buku sejak dini maka akan meningkatkan kemampuan anak untuk mendengarkan, meningkatkan kreativitas anak, menambah kosa kata pada anak, serta meningkatkan daya ingat anak. Oleh karena itu, dengan membiasakan membaca buku sejak dini, maka akan meningkatkan kualitas anak bangsa di suatu negara.
Mengutip Jurnal Pengaruh Budaya Literasi dalam Mengembangkan Kecerdasan Kewarganegaraan tulisan Dinda Nurul Aini(2018), tingkat literasi dapat mempengaruhi personal, moral dan kecerdasan seseorang. Lalu bagaimana keadaan literasi membaca di Indonesia? Dilansir dari laman Kompasiana Upaya Pemerintah Meningkatkan Literasi di Indonesia, menyebutkan bahwa baru-baru ini Kemendikbudristek mengembangkan enam jenis literasi untuk masyarakat Indonesia, keenam literasi yang dikembangkan yakni literasi baca tulis, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, literasi numeris serta literasi budaya dan kewargaan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan literasi di Indonesia agar masyarakat dapat menemukan, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi literasi dengan baik. Kemudian Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Syarif Bando Menyatakan bahwa tingkat literasi di Indonesia dari zaman ke zaman terus mengalami peningkatan. Beliau memaparkan bahwa pada zaman kemerdekaan, hanya 2% populasi Indonesia bisa membaca. Sementara 98% sisanya dinyatakan buta huruf. Anggaran negara yang digelontorkan untuk memberantas buta huruf pun dianggap minim. “Bahkan seorang presiden (Soekarno) berjalan kaki untuk mengajari orang membaca dalam rangka pemberantasan buta huruf” Ujar Syarif Bando. Di masa kini, persoalan buta huruf tidak lagi menjadi kendala untuk membaca. Pasalnya Syarif Bando menyatakan bahwa 96% rakyat Indonesia sudah bebas dari buta huruf. Sisanya sebanyak 4% masih mengalami buta aksara. Penumpasan buta huruf ini juga didukung oleh anggaran sebesar 20% dari APBN. Namun saat ini, minat baca di Indonesia masih rendah meskipun masyarakatnya sudah tidak buta huruf. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Indonesia berada diurutan ke-61 dari 60 negara soal minat baca. Hal ini disebabkan karena masyarakat di Indonesia lebih memilih menonton di jejaring internet seperti menonton hiburan di Youtube, Tiktok dan lain-lain daripada membaca. Kemajuan teknologi informasi di era digital saat ini memang memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Hasil survei mengatakan di Indonesia 73,9% penduduknya memanfaatkan teknologi digital. Itu setara dengan 202 juta dari total 270 juta penduduk Indonesia. Memang teknologi digital memberikan banyak manfaat. Namun, di sisi lain dampak dari teknologi digital ini mengakibatkan masyarakat Indonesia khususnya generasi muda malas membaca dan lebih memilih untuk menonton hiburan lewat Smartphone. Bahkan, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi Riau, Erisman Yahya saat menjadi narasumber dalam workshop Generasi Sadar Teknologi Informasi di SMAN 7 Pekanbaru, kamis (22/9/2022) mengatakan “Kita suka melihat (menonton) tapi malas membaca. Di Indonesia, kalau mau terkenal jangan jadi penulis buku tapi jadi YouTuber saja”. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor penyebab kurangnya minat baca di Indonesia, yakni membaca sejak dini dianggap tidak penting, generasi sekarang ini adalah generasi serba instan. Kemudian pengaruh teknologi yang semakin canggih mengakibatkan generasi muda lebih suka menonton daripada membaca. Buku-buku yang tersedia pun dianggap kurang menarik hingga tidak adanya kesadaran dalam diri akan pentingnya membaca.
Menurut Kepala Perpustakaan Nasional RI, terdapat empat indikator tingkat literasi Indonesia saat ini, yang pertama adalah kemampuan seseorang mengakses ilmu pengetahuan melalui buku, baik buku cetak maupun digital untuk mendapatkan sumber-sumber informasi lengkap dan terpercaya. Tingkat selanjutnya adalah kemampuan memahami apa yang tersirat dan yang tersurat. Kemudian yang ketiga adalah kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan baru, kreativitas dan inovasi, serta kemampuan menganalisis informasi dan menulis buku. Yang terakhir adalah kemampuan menciptakan barang jasa yang bermutu yang dapat dipakai dalam kompetisi global.
Mungkin saat ini, tantangan pemerintah Indonesia untuk memajukan negara serta mencerdaskan anak bangsa tidak lagi tentang penumpasan buta huruf, tetapi bagaimana cara menjadikan anak bangsa gemar membaca di era digital saat ini. Tentunya membaca itu lebih unggul dibandingkan dengan menonton. Karena dengan membaca akan merangsang aktifnya hubungan sel-sel neuron otak dibanding menonton. Membaca setidaknya memerlukan konsentrasi yang tajam dibandingkan menonton. Membaca juga mampu membangun kebiasaan intelektual dibanding menonton. Selain itu juga, dengan membaca akan membuat otak lebih mampu menyusun informasi yang masuk dengan bentuk yang rapi dibandingkan menonton. Kemudian membaca juga menjadikan seseorang memiliki kemampuan dan keterampilan membaca dengan baik, ia tidak akan mengalami masalah jika harus menyerap informasi lewat tontonan. Tetapi orang yang tidak terbiasa membaca akan kesulitan ketika harus menyerap informasi lewat membaca. Tidak hanya itu, kelebihan utama membaca dibanding menonton adalah dengan membaca akan lebih mendorong seseorang untuk menulis. Orang yang mampu menulis setidaknya memiliki dua kelebihan, yang pertama yaitu ilmu atau ide siap dibagi dengan orang lain dan kemampuan menyusun pikiran dalam bahasa tertulis.
Sebagai anak bangsa yang memiliki peran penting untuk memajukan negara sebagaimana yang tertuang dalam deklarasi sumpah pemuda yakni bahwa anak bangsa memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa baik dalam hal memajukan peradaban ataupun mengangkat martabat bangsa. Tentunya kita sebagai anak bangsa harus membiasakan diri untuk gemar membaca serta mampu memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan. Entah itu membaca lewat buku cetak ataupun buku digital untuk menunjang pembelajaran sehingga kita dapat memajukan negara dengan pengetahuan yang luas serta menjadi anak bangsa Indonesia yang semakin berkualitas.
Oleh: Anggi Rahmawati, Iyep Saepulloh, Mutia Nurjanah, Rofi Ar-Rasyid